Kuning-kuning tidak mengambang? Ya jembatan kuning. Bagi
orang-orang yang pernah atau sering mengambil jalan ke Garut via Majalaya pasti
tidak asing dengan jembatan ini. Meskipun bukan ikon Majalaya, jembatan kuning
ini menjadi salah satu sarana yang kece untuk diajak berfoto. Letaknya berada
di area Lingkar Ibun-Kamojang. Jembatan ini juga dikenal dengan nama lain “Kamojang
Hill Bridge”. Nah, sebelum melewati jembatan kuning ini, tulisan
“Kamojang Hill Bridge” bisa kalian temui di pinggir jalan. Sstt,
jembatan kuning ini juga punya penghargaan loh, jembatan ini dinobatkan sebagai
jalan hijau Indonesia. Keren kan? Jembatan ini juga menjadi penghubung antara
kabupaten Bandung dengan kabupaten Garut. Adanya jembatan ini jelas membantu
akses perjalanan warga sekitar untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Selain
itu, jembatan ini juga membantu akses pengendara yang ingin berwisata ke
kawasan Kmojang, yang terkenal dengan kawahnya itu.
Tips untuk kalian yang berencana ke Garut melewati Majalaya, cek
terlebih dahulu kondisi kendaraan kalian. Mengingat medan jalan yang berliku
serta tanjakan dan turunan yang cukup curam. Bahkan ada beberapa pengendara
yang menyarankan untuk tidak berboncengan, khawatir tenaga motor kalian tidak
cukkup kuat untuk melewati medan yang tersedia. Saran lainnya yaitu hindari
menggunakan motor matic. Kalaupun terpaksa harus menggunakan motor matic,
usahakan menggunakan motor dengan tenaga yang cukup kuat dan dipercaya mampu
melawan terjalnya jalanan Kamojang. Melihat medan yang cukup berat, jalanan ini
cenderung dipilih oleh para pengemudi yang menyukai touring atau sudah
mengenal betul jalanan Kamojang. Jangan khawatir, buat kalian dari arah Bandung
yang mau nyoba ke Garut lewat Majalaya tinggal berangkat aja. Apalagi kalau
jalanan lagi macet dimana-mana, boleh banget pakai jalan ini sebagai jalan
alternatif. Biasanya, ketika arus lalu lintas sedang ramai, ada polisi yang
berjaga juga kok. Jadi aman kapten. Berhubung jalannya terhitung sempit, mohon
bersabar juga ya buat para pengendara yang melintasi jalanan ini, ga usah
ngebut-ngebut. Santai aja, supaya keindahannya dapat kita rasakan dan resapi secara
perlahan sehingga maksimal yang kita dapatkan. Buat yang mau berhenti di
sekitar jembatan kuning bisa berhenti di bagian ruas jalan yang luas ya, jangan
menghalangi pengendara lain yang ingin melintas, karena jalanan milik kita
bersama, bukan kamu saja. Mari kita berbagi kenikmatan alam ini untuk semua
yang ada di bumi.
Tahu Ariel Noah kan? Ferry Maryadi dan Uus komika juga tahu kan?
Mereka pernah ke sini juga loh. Kalian kapan? Ayo ayo, keburu jembatannya
penuh. Penuh orang ya, jangan dipenuhi coretan, nanti estetikanya berkurang. Jadi,
mau foto kapan? Pagi? Siang? Sore? Boleh, kapan pun bisa. Apalagi buat kalian
penikmat senja, warna langit yang jingga ditambah warna jembatan yang ceria.
Wah, perpaduan sempurna. Terlebih lagi jembatan ini sudah menyiapkan
lampu-lampu untuk penerangan yang juga siap untuk mempermanis hasil jepretan
kalian saat sore menjelang malam. Di sini, jembatan kuning tidak berdiri
sendiri lho. Banyak warung-warung yang berdiri menemani si manis ini. Jadi
untuk pengendara yang mau beristirahat bisa mampir di warung-warung sekitar
sambil menikmati udara segarnya Majalaya. Kurang apa lagi? Jembatan kuning yang
menarik perhatian, udara segar dan menyejukkan, foto yang siap menjadi
postingan, dan kopi dari bapak/ibu/aa/teteh pedagang. Aduh lengkapnya
kesenangan. Et, tapi jangan lupa sampahnya dibuang ke tempat sampah ya. Cukup
kenangan aja yang ditinggalkan, sampah mah jangan. Begitu kawan-kawan.