Kamis, 12 Desember 2019

Si Manis Jembatan Kuning

oleh Alfi Amelia Dewi
 
Kuning-kuning tidak mengambang? Ya jembatan kuning. Bagi orang-orang yang pernah atau sering mengambil jalan ke Garut via Majalaya pasti tidak asing dengan jembatan ini. Meskipun bukan ikon Majalaya, jembatan kuning ini menjadi salah satu sarana yang kece untuk diajak berfoto. Letaknya berada di area Lingkar Ibun-Kamojang. Jembatan ini juga dikenal dengan nama lain “Kamojang Hill Bridge”. Nah, sebelum melewati jembatan kuning ini, tulisan “Kamojang Hill Bridge” bisa kalian temui di pinggir jalan. Sstt, jembatan kuning ini juga punya penghargaan loh, jembatan ini dinobatkan sebagai jalan hijau Indonesia. Keren kan? Jembatan ini juga menjadi penghubung antara kabupaten Bandung dengan kabupaten Garut. Adanya jembatan ini jelas membantu akses perjalanan warga sekitar untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Selain itu, jembatan ini juga membantu akses pengendara yang ingin berwisata ke kawasan Kmojang, yang terkenal dengan kawahnya itu.
Tips untuk kalian yang berencana ke Garut melewati Majalaya, cek terlebih dahulu kondisi kendaraan kalian. Mengingat medan jalan yang berliku serta tanjakan dan turunan yang cukup curam. Bahkan ada beberapa pengendara yang menyarankan untuk tidak berboncengan, khawatir tenaga motor kalian tidak cukkup kuat untuk melewati medan yang tersedia. Saran lainnya yaitu hindari menggunakan motor matic. Kalaupun terpaksa harus menggunakan motor matic, usahakan menggunakan motor dengan tenaga yang cukup kuat dan dipercaya mampu melawan terjalnya jalanan Kamojang. Melihat medan yang cukup berat, jalanan ini cenderung dipilih oleh para pengemudi yang menyukai touring atau sudah mengenal betul jalanan Kamojang. Jangan khawatir, buat kalian dari arah Bandung yang mau nyoba ke Garut lewat Majalaya tinggal berangkat aja. Apalagi kalau jalanan lagi macet dimana-mana, boleh banget pakai jalan ini sebagai jalan alternatif. Biasanya, ketika arus lalu lintas sedang ramai, ada polisi yang berjaga juga kok. Jadi aman kapten. Berhubung jalannya terhitung sempit, mohon bersabar juga ya buat para pengendara yang melintasi jalanan ini, ga usah ngebut-ngebut. Santai aja, supaya keindahannya dapat kita rasakan dan resapi secara perlahan sehingga maksimal yang kita dapatkan. Buat yang mau berhenti di sekitar jembatan kuning bisa berhenti di bagian ruas jalan yang luas ya, jangan menghalangi pengendara lain yang ingin melintas, karena jalanan milik kita bersama, bukan kamu saja. Mari kita berbagi kenikmatan alam ini untuk semua yang ada di bumi.
Tahu Ariel Noah kan? Ferry Maryadi dan Uus komika juga tahu kan? Mereka pernah ke sini juga loh. Kalian kapan? Ayo ayo, keburu jembatannya penuh. Penuh orang ya, jangan dipenuhi coretan, nanti estetikanya berkurang. Jadi, mau foto kapan? Pagi? Siang? Sore? Boleh, kapan pun bisa. Apalagi buat kalian penikmat senja, warna langit yang jingga ditambah warna jembatan yang ceria. Wah, perpaduan sempurna. Terlebih lagi jembatan ini sudah menyiapkan lampu-lampu untuk penerangan yang juga siap untuk mempermanis hasil jepretan kalian saat sore menjelang malam. Di sini, jembatan kuning tidak berdiri sendiri lho. Banyak warung-warung yang berdiri menemani si manis ini. Jadi untuk pengendara yang mau beristirahat bisa mampir di warung-warung sekitar sambil menikmati udara segarnya Majalaya. Kurang apa lagi? Jembatan kuning yang menarik perhatian, udara segar dan menyejukkan, foto yang siap menjadi postingan, dan kopi dari bapak/ibu/aa/teteh pedagang. Aduh lengkapnya kesenangan. Et, tapi jangan lupa sampahnya dibuang ke tempat sampah ya. Cukup kenangan aja yang ditinggalkan, sampah mah jangan. Begitu kawan-kawan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar