oleh Winda Dwi Apriliani Wijaya
Borondong garing...
Ider kota pilemburan...
Mekar lumaku diri...
Anu dagang bari mimitran...
Pernahkah
kalian mendengar lirik lagu seperti di atas? Kalo sudah, tentu kalian akan
hafal sekali dengan makanan yang bernama “Borondong” pastinya. Ya, Borondong
merupakan salah satu makanan yang berasal dari Majalaya, khususnya Kecamatan
Ibun. Jika kesana, akan banyak sekali dijumpai pedagang yang menjajakan
borondong di pinggir jalan.
Borondong
merupakan salah satu makanan yang lezat dan juga unik. Makanan yang terbuat
dari beras ketan asli. Untuk menghasilkan borondong yang nikmat tentunya tidak
menggunakan sembarang ketan, beras ketan yang dipakai harus ketan yang masih di
tangkainya. Namun, borondong juga tidakhanya terbuat dari beras ketan saja, ada
jenis lainnya yang gterbuat dari biji jagung. Jagung yang sudah siap disangrai,
kemudian setelah disangrai dibersihkan dari cangkangnya. Bisa dibilang
borondong jagung ini adalah popcorn dengan kearifan lokal. Nah, jika jagung yang disangrai tadi telah
menjadi seperti popcorn, proses selanjutnya adanya mencampurkan gula merah atau
gula putih yang telah dicairkan, biasanya disebut dengan kinca. Jika sudah
dicampur rata, borondong siap dibentuk sesuai keinginan, ada yang berbentuk
bulat, persegi, bahkan ada yang sebesar bola futsal loh.
Borondong
pertama kali dibuat oleh Ambu Enit sekitar tahun 1920-an. Awalnya makanan ini dibuat
hanya untuk camilan anak-anaknya, bukan untuk dijual. Namun, pada 1940-an
anak-anak Ambu Enit, Bi Anah dan Bi Tarsih membuat borondong untuk memenuhi pesanan
dari sebuah hajatan. Mulai pada awal tahun 1950 borondong mulai diketahui
banyak orang. Tetangga-tetangga Bi Anah dan Bi Tarsih pun ikut membantu membuat
borondong. Mulai saat itulah, mereka merintis bisnis membuat makanan
tradisional ini untuk memenuhi pesanan yang semakin banyak. Sejak saat itu juga
borondong menjadi jualan warga sekitar.
Borondong
juga memiliki jenisnya masing-masing, yaitu ada borondong garing dan juga enten. Seperti yang telah dijelaskan di atas,
borondong garing adalah beras ketan ataupun jagung yang disangrai, kemudian dicampur
dengan gula yang telah dilelehkan atau biasa disebut kinca kemudian dibentuk
sesuai keinginan. Sedangkan enten sejenis wajik perpaduan beras ketan dan gula
kemudian dibukus oleh ketan ataupun jagung. Agar lebih menarik aromanya,
biasanya pembuat enten menambahkan wangi makanan alami dari buah nanas atau
buah mangga jenis kweni.
Walaupun
borondong ini makanan tradisional, borondong tetap bertahan sampai sekarang.
Kenikmatannya tidak kalah meski bersaing dengan makanan-makanan modern saat
ini. Jika kalian penasaran dan ingin melihat langsung pembuatan borondong ini,
bisa datang langsung datang ke tempat pembuatannya di Desa Laksana, Kecamatan
Ibun, Kabupaten Bandung. Namun jika tidak sempat datang ke tempatnya, bisa juga
ditemukan di pinggir jalan, atau zaman modern ini sudah cukup banyak dibeli
lewat online dan dikirim oleh kurir.
Untuk
menarik minat pembeli, borondong saat ini dikemas dengan kemasan yang lebih
menarik dan bentuk yang menarik. Sehingga penikmat borondong tidak hanya
kalangan dewasa, namun anak-anak dan remaja pun tertarik untuk menikmati salah
satu makanan tradisional ini. Borondong cocok sekali dinikmati sendiri maupun
bersama orang-orang terdekat seperti keluarga dan teman-teman. Jauh lebih
nikmat jika dinikmati dengan secangkir teh hangat ataupun secangkir kopi. Salah
satu makanan yang nikmat dikonsumsi kapan pun.
Dari
segi harga, tentunya makanan tradisional ini terjangkau. Harganya cukup bervariasi
tergantung penjual dan jenis-jenis borondong tersebut. Biasanya harganya
dipatok mulai dari Rp 5.000, hingga puluhan ribu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar