Bebas deh mau nonton film apa, di
mana, dan sama siapa. Tapi menurutku nonton film emang lebih mantap sambil
nguyah-nguyah. Apalagi kalau nonton film
di bioskop. Ternyata sejak dari zaman Perang Dunia II cemilan masuk teater itu udah sangat
populer. Nonton film identik dengan
cemilan yang namanya popcorn. Popcorn yang berbahan dasar jagung ini adalah salah
satu cemilan yang sering kita temukan di bioskop. Aromanya harum, rasanya ada
yang gurih dan ada yang manis, serta teksturnya yang renyah menjadikan popcorn sebagai
cemilan yang tepat pas nonton film. Melihat dari laman thespruceeats.com, katanya
popcorn merupakan makanan ringan yang udah dikenal masyarakat dari dulu, udah
ada sejak ribuan tahun lalu loh.
Tahu gak sih? Masyarakat Sunda juga
punya makanan khas dari daerah Majalaya yang mirip kayak popcorn loh. Borondong
namanya. Borondong ini punya bahan dasar Ketan. Pada awalnya, setelah
menyanggrai gabah ketan, pembuatan borondong ini emang dibikin kayak popcorn
dulu, terus dibersihkan deh tuh sisa gabahnya, dilanjut dengan menguleni dan
mencampurkannya dengan gula merah yang sudah dicairkan, lalu mencetak dalam
bentuk gepeng dan bulat, kemudian memasukannya ke dalam oven supaya kering dan
mengeras. Oh iya, borondong ini sendiri ada dua bentuk yaitu gepeng atau biasa
disebut borondong garing dan ada juga yang bentuknya bulat atau biasa disebut
borondong eten. Walaupun borondong ini bahan dasarnya ketan yang pasti gak sama
kayak popcorn. Jangan salah, rasanya gak
jauh beda. Pokoknya gak kalah enak deh
dari popcorn yang ada di bioskop terkenal.
Namun, pembuat makanan borondong
ini lebih terkenal dari Kecamatan Ibun bukan berasal dari Majalaya. Namanya Ma
Erah, pada tahun 2004 beliau pernah memecahkan rekor MURI dengan membuat Gedung
Sate dari Borondong yang menghabiskan gabah 2 ton, gula merah 800 kg, gula
putih 500 kg. Dengan bangga Menteri Pemberdayaan Perempuan Republik Indonesia
pada saat itu membuka acara dengan memotong untaian Borondong. Pemberian
anugerah MURI (Museum Rekor Indonesia) yang diberikan kepada Ma Erah yang
disaksikan oleh Bapak Camat Kecamatan Ibun dan Bapak Kepala Desa Laksana serta
diliput oleh surat kabar maupun stasiun televisi swasta. Kebanyakan memang
pengusaha borondong ini adalah usaha turun-temurun yang dilanjutkan oleh
generasi setelahnya.
Sayangnya, pembuat borondong saat ini sudah tidak begitu banyak. Mungkin
faktornya adalah konsumen yang berkurang dan tergesernya oleh makanan-makanan
yang lebih milenial. Padahal walaupun
borondong ini bahan dasarnya ketan yang pasti gak sama kayak popcorn. Jangan salah, rasanya gak jauh beda. Pokoknya gak kalah enak deh dari rasa
popcorn. Bahkan, harganya jauh lebih murah dari pada beli popcorn di bioskop. Pokoknya
makanan tradisional Borondong Majalaya ini bisa banget dijadikan teman nonton film
favoritmu, ditambah dengan teh hangat atau dijadikan cemilan ngobrol bersama
kekasihmu. Rasanya yang manis cukup bikin mood naik juga loh. Hmm cukup
menggoda bukan? Yuk buat yang belum pernah cobain, kamu masih bisa temukan
makanan tradisional khas sunda ini di toko oleh-oleh atau di lapak online kok.
Harganya mulai dari Rp.5.000,- saja loh.
Sebagai masyarakat Indonesia, yuk
kita terus lestarikan makanan-makanan tradisional! Bisa kita mulai dengan cara
tetap mengkonsumsinya atau bahkan kita juga bisa terus membuatnya dengan
inovasi-inovasi baru agar eksistensinya tidak tergeser dan tidak terkalahkan
oleh makanan dari luar negeri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar